Laman

Sabtu, 14 Juli 2012

ADA APA DENGAN “RUMPUT”


Semua kita pasti kenal dengan yang namanya RUMPUT kan?
Ya, rumput... rumput yang biasanya disantap ternak (kasian banget ya si ‘rumput’?? tapi, dengan begitulah dirinya menjadi bermanfaat…) rumput yang umumnya menghiasi halaman rumah (menghiasi? Mungkin lebih tepatnya me**tiiitt. Sepertinya tidak baik memaki dan membicarakan keburukannya karna memang sudah nasibnya buruk.^_^ ), rumput yang biasa menjadi sasaran mereka yang galau dan bingung. Lha?? Yang ini sih gara2 seringnya mendengar kalimat yang dilontarkan teman2 dalam candanya:

            “TANYAKAN PADA RUMPUT YANG BERGOYANG”

Rumput punya seni juga ternyata, selain bisa bicara (untuk menjawab pertanyaan manusia; dari kalimat di atas) dia juga bisa bergoyang.
Bisa buka pelatihan seni rumput nih! Lho????
Weleeeeehhh…………..

Back to the point,

Apa tadi ya???

……………………………………………………………………..


Yupz, soal si “RUMPUT”


Ada apa jadi dengan si “RUMPUT” ????

ADA APA?? ADA APA??? ADA APA???? ADA APA?????


Ssst….. tenang dulu!


Hhmm,

Pernahkah kita liat rumput yang tidak pernah diinjak? NO!  NEVER!!
But, may be.. pernah. Di taman-taman yang dikelola sebagai daerah wisata atau tempat bermain. Sering kita melihat pamplet bertuliskan “JANGAN MENGINJAK RUMPUT”.
Tapi, apa kita yakin kalau rumput tersebut benar-benar tidak ada yang menginjaknya?
Tidak diinjak saat ada penjaganya, tidak diinjak karna takut pada petugasnya, tidak diinjak dengan alasan karna tidak ingin bermasalah dengan si pembuat peraturan. Tapi, apa pernah rumput itu tidak diinjak karna memang ‘ia’ dihargai dan dimuliakan??
I’m sure, it’s NEVER!!!  JARANG SEKALI…

“ kenapa tidak boleh diinjak?? Bukannya rumput tumbuh untuk dipijak? 

“ kalau tidak boleh diinjak, jangan ditanam diatas tanah. Bukankah tanah ini tempat kita menginjakkan kaki? ”

Kalimat-kalimat diatas mungkin tidak jarang terlontar dari mulut kita saat ada yang melarang kita untuk menginjak rumput.
Yah, mungkin memang sudah nasibnya rumput untuk diinjak. Keberadaannya sering dipandang sebelah mata. Ia dianggap seolah antara ada dan tiada. (ceileeee,,  lebay banget nih! Hehe)
Jika kita tak sengaja menginjak tanaman hias di halaman tetangga, dengan cepat kite langsung memohon maaf tanpa henti sampai si tetangga melebarkan senyumnya tanda telah memaafkan kita. tapi, ketika kita dengan sengaja menginjak rumput di halaman tetangga, apa pernah kita meminta maaf tanpa harus diminta? Atau adakah sekedar rasa bersalah di hati kita?
            We can Ask it with our self…
            Tanyakan pada diri kita masing-masing.

So, apa maksud dari cerita ini??

Oke, let’s to the point!

Kembali  tentang si ‘RUMPUT’ tadi…

RUMPUT yang nasibnya dalam kehinaan dan sering tak dihargai. Rumput yang keberadaannya sering tak dianggap dan diinjak-injak. Rumput yang dogolongkan sebagai hama; alias tanaman pengganggu (kasiaaannn………).

Tapi, coba kita perhatikan! Beberapa menit saja setelah diinjak, rumput mampu berdiri tegak kembali. Rumput tak pernah goyah, bahkan rumput termasuk tanaman yang sulit dibasmi keberadaannya.
Yah,, rumput begitu kuat meski ia sering diinjak dan tak dipedulikan.
Akar-akarnya semakin kuat meski telah dipangkas atau dipotong.
Begitulah kepribadian “RUMPUT” yang layak dijadikan panutan dalam hidup kita. filosofinya sangat tepat dijadikan sifat teladan untuk diikuti.

Meski cobaan dan hinaan yang kerap melanda diri kita, tapi tetaplah menjadi kuat layaknya rumput. Teruslah menjadi kokoh dan memperbaiki diri dalam kerasnya badai kehidupan yang menerjang. Karna kita punya ALLAH tempat memohon kekuatan dan pertolongan.