Semua
kita pasti kenal dengan yang namanya RUMPUT kan?
Ya,
rumput... rumput yang biasanya disantap ternak (kasian banget ya si ‘rumput’??
tapi, dengan begitulah dirinya menjadi bermanfaat…) rumput yang umumnya
menghiasi halaman rumah (menghiasi? Mungkin lebih tepatnya me**tiiitt. Sepertinya
tidak baik memaki dan membicarakan keburukannya karna memang sudah nasibnya
buruk.^_^ ), rumput yang biasa menjadi sasaran mereka yang galau dan bingung. Lha??
Yang ini sih gara2 seringnya mendengar kalimat yang dilontarkan teman2 dalam
candanya:
“TANYAKAN PADA RUMPUT YANG BERGOYANG”
Rumput
punya seni juga ternyata, selain bisa bicara (untuk menjawab pertanyaan
manusia; dari kalimat di atas) dia juga bisa bergoyang.
Bisa
buka pelatihan seni rumput nih! Lho????
Weleeeeehhh…………..
Back
to the point,
Apa
tadi ya???
……………………………………………………………………..
Yupz,
soal si “RUMPUT”
Ada apa jadi dengan si “RUMPUT” ????
ADA
APA?? ADA APA??? ADA APA???? ADA APA?????
Ssst…..
tenang dulu!
Hhmm,
Pernahkah
kita liat rumput yang tidak pernah diinjak? NO!
NEVER!!
But,
may be.. pernah. Di taman-taman yang dikelola sebagai daerah wisata atau tempat
bermain. Sering kita melihat pamplet bertuliskan “JANGAN MENGINJAK RUMPUT”.
Tapi,
apa kita yakin kalau rumput tersebut benar-benar tidak ada yang menginjaknya?
Tidak
diinjak saat ada penjaganya, tidak diinjak karna takut pada petugasnya, tidak
diinjak dengan alasan karna tidak ingin bermasalah dengan si pembuat peraturan.
Tapi, apa pernah rumput itu tidak diinjak karna memang ‘ia’ dihargai dan
dimuliakan??
I’m
sure, it’s NEVER!!! JARANG SEKALI…
“ kenapa tidak boleh diinjak?? Bukannya rumput
tumbuh untuk dipijak? ”
“ kalau tidak boleh diinjak, jangan ditanam
diatas tanah. Bukankah tanah ini tempat kita menginjakkan kaki? ”
Kalimat-kalimat
diatas mungkin tidak jarang terlontar dari mulut kita saat ada yang melarang kita
untuk menginjak rumput.
Yah,
mungkin memang sudah nasibnya rumput untuk diinjak. Keberadaannya sering
dipandang sebelah mata. Ia dianggap seolah antara ada dan tiada. (ceileeee,, lebay banget nih! Hehe)
Jika
kita tak
sengaja menginjak tanaman hias di halaman tetangga, dengan cepat kite langsung
memohon maaf tanpa henti sampai si tetangga melebarkan senyumnya tanda telah
memaafkan kita. tapi, ketika kita dengan sengaja menginjak rumput di
halaman tetangga, apa pernah kita meminta maaf tanpa harus diminta? Atau adakah
sekedar rasa bersalah di hati kita?
We can Ask it with our self…
Tanyakan pada diri kita
masing-masing.
So,
apa maksud dari cerita ini??
Oke,
let’s to the point!
Kembali tentang si ‘RUMPUT’ tadi…
RUMPUT yang nasibnya dalam
kehinaan dan sering tak dihargai. Rumput yang keberadaannya sering tak dianggap
dan diinjak-injak. Rumput yang dogolongkan sebagai hama; alias tanaman
pengganggu (kasiaaannn………).
Tapi,
coba kita perhatikan! Beberapa menit saja setelah diinjak, rumput mampu berdiri
tegak kembali. Rumput tak pernah goyah, bahkan rumput
termasuk tanaman yang sulit dibasmi keberadaannya.
Yah,,
rumput begitu kuat meski ia sering diinjak dan tak dipedulikan.
Akar-akarnya
semakin kuat meski telah dipangkas atau dipotong.
Begitulah
kepribadian “RUMPUT” yang layak dijadikan panutan dalam hidup kita. filosofinya
sangat tepat dijadikan sifat teladan untuk diikuti.
Meski
cobaan dan hinaan yang kerap melanda diri kita, tapi tetaplah menjadi kuat layaknya
rumput. Teruslah menjadi kokoh dan memperbaiki diri dalam kerasnya badai
kehidupan yang menerjang. Karna kita punya ALLAH tempat memohon kekuatan dan
pertolongan.

